O-KOKU
卓球王国

The worlds leading table tennis magazine, since 1997

O-KOKU
‘Orang yang kalah melakukan latihan yang sia-sia’ — Mental untuk menjadi pemenang karya Jun Mizutani

‘Orang yang kalah melakukan latihan yang sia-sia’ — Mental untuk menjadi pemenang karya Jun Mizutani

BUKU
Dari buku karya peraih medali emas Olimpiade Jun Mizutani, ‘Orang yang kalah melakukan latihan yang sia-sia’

Pada 2002, tim putra Jepang yang selama itu berada dalam masa suram mulai melakukan reformasi.
Dua pemain muda berbakat, Ryosuke Sakamoto dan Seiya Kishikawa, dikirim ke klub Jerman Borussia Düsseldorf untuk dilatih oleh Mario Amizic. Setahun kemudian, Jun Mizutani menyusul dan berangkat ke Düsseldorf.

Profil Jun Mizutani
Jun Mizutani
Lahir 9 Juni 1989, asal Prefektur Shizuoka. Ia meraih gelar juara di semua nomor kelompok usia pada Kejuaraan Nasional Jepang, termasuk kelas usia (seperti U12), lalu menjuarai juga kategori junior (U17). Di nomor umum pada ajang “All Japan Table Tennis Championships” yang memiliki tradisi lebih dari 90 tahun, ia menorehkan prestasi bersejarah dengan total 10 gelar juara, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia tampil di Olimpiade empat kali berturut-turut sejak Beijing 2008. Pada Olimpiade Rio 2016, ia meraih medali perunggu tunggal dan medali perak beregu, lalu pada Olimpiade Tokyo 2021 ia meraih emas Mixed Doubles dan perunggu beregu. Ia dikenal sebagai salah satu pemain paling sukses dalam sejarah tenis meja Jepang. Saat ini ia aktif sebagai komentator di televisi dan media lainnya.

Bab 1 Mental untuk menjadi pemenang

Kalau hanya bertanya pada orang lain dengan mudah tanpa melakukannya sendiri, teknik dan cara berpikir itu tidak akan melekat.

Jangan mudah meminta saran. Proses berusaha menemukan jawaban sambil menderita itu yang penting

 Kalau sudah lama jadi pemain, ada masa ketika semakin banyak berlatih dan semakin banyak bertanding, justru kondisi semakin menurun.

 Kalau di masa belakangan, itu terjadi sekitar September dan Oktober 2014, saat bola tenis meja berubah dari bola seluloid menjadi bola plastik. Dalam sejarah tenis meja yang konon dimulai sekitar tahun 1890, bola yang dipakai lebih dari 100 tahun berubah menjadi bola berbahan baru. Karena pantulan, laju, dan sensasi pukulan bola seluloid sudah melekat pada tubuh dan saraf saya, sulit untuk menyesuaikan diri dengan bola plastik yang baru.

 Pernah juga saya berpikir, “Mungkin saya sudah tidak bisa main tenis meja lagi.” Saat seperti itu, saya terus bertanya kepada pemain lain, “Setelah jadi bola plastik, apa yang kalian ubah? Apa yang berubah? Bagian mana yang bagaimana?” Komentar yang saya dapat dari mereka menjadi petunjuk untuk bangkit kembali.

 Awalnya, meski memukul bola plastik, yang saya pahami hanya, “terlalu melambung” atau “tidak bisa menyesuaikan diri dengan pantulannya.” Tapi dengan mendapat saran, banyak hal mulai terlihat, dan saya mengerti cara menyelesaikannya.

 Kita mencoba berbagai hal sendiri sambil bergulat dengan kebingungan, lalu tetap tidak paham, dan pada akhirnya baru meminta saran orang lain. Kalau hanya bertanya pada orang lain dengan mudah tanpa melakukannya sendiri, teknik dan cara berpikir itu tidak akan melekat. Menurut saya, yang penting adalah benar-benar mengerjakannya sendiri sampai ke titik “saya sudah tidak bisa berbuat lebih lagi”, lalu dengan susah payah berjuang mencari jawaban. Proses itulah yang penting.

*Bola plastik=Dalam dunia tenis meja, selama lebih dari 100 tahun digunakan bola seluloid yang terbuat dari kapas alami. Namun, karena sangat mudah terbakar dan muncul pembatasan produksi di China, produsen utamanya, sejak turnamen internasional mulai September 2014 bola diganti menjadi bola berbahan plastik

Konten ini adalah konten berbayar

Dengan berlangganan, Anda dapat mengakses semua artikel berbayar

Bagikan